Showing posts with label undangan mahal. Show all posts
Showing posts with label undangan mahal. Show all posts

Thursday, October 24, 2013

Tren Kartu Undangan Pernikahan 2012

Kartu undangan merupakan bentuk dan cerminan pesta pernikahan, dan bisa juga mencerminkan pribadi kedua calon mempelai. Oleh karena itu, Anda tidak bisa memilihnya secara asal-asalan. Salah satu cara terbaik menentukan kartu undangan yang tepat adalah dengan mengikuti tren terbaru. Seperti yang dikutip dari The Knot, berikut ini enam tren kartu undangan pernikahan yang bisa Anda pilih.

1. Stripes
Salur menjadi motif yang diprediksi akan mendominasi rangkaian kartu undangan pernikahan pengantin di tahun 2012. Baik horizontal, vertikal, multiwarna atau warna ciri favorit, semuanya terserah Anda. Namun motif garis dengan pinggiran tipis bisa menjadi pilihan tepat bagi Anda yang ingin bergaya klasik sekaligus modern.

2. Perhiasan
Bosan dengan permainan motif atau gambar-gambar? Anda bisa menjadikan kartu undangan pernikahan tampak mewah dengan batu-batuan seperti mutiara, manik-manik atau rhinestones. Bagi yang memiliki anggaran lebih, kristal Swarovski bisa menjadi hiasan yang cantik.

3. Bold dan Putih
Meskipun penggunaan warna telah menjadi tren undangan pernikahan selama bertahun-tahun, tapi kali ini warna putih kembali difavoritkan. Pilih undangan berwarna terang, dan buat penampilannya ‘sleek’ dengan tulisan warna putih. Sederhana namun tetap menarik perhatian.

4. Tekstur Bunga
Pernikahan selalu identik dengan bunga. Mengapa Anda tak gunakan hal itu dalam konsep undangan pernikahan? Pilihlah undangan dengan hiasan bunga tiga dimensi, cari bentuk dan jenis bunga yang paling sesuai dengan tema pesta Anda.

5. Bahan Couture
Menggunakan bahan yang unik adalah ide terbaru di tren undangan pernikahan. Banyak undangan yang menggunakan bahan velvet, kertas mengkilap dan kayu. mengapa Anda tak mencoba akrilik agar bisa tampil beda?

6. Bungkus
Belakangan ini amplop tak lagi menjadi pilihan untuk membungkus kartu undangan pernikahan. Kali ini undangan pernikahan diikat menggunakan tali warna-warni, disimpan dalam kotak, atau sebuah tas kecil. Bahkan tak sedikit, orang-orang memilih undangan pernikahan yang dapat dilipat menjadi beberapa bagian (bifold) agar lebih praktis dan terjangkau.
sumber : http://www.wolipop.com/read/2012/01/03/080228/1805120/854/6-tren-kartu-undangan-pernikahan-2012

True Loves Never Dies. It only gets stronger

 
There is some good and inspiring story about Love and Time…here is the story, enjoy it guys :
Once upon a time, there was an island where all the feelings lived. Happiness, Sadness, Knowledge, and all of others, including Love.  One day it was announced to the feelings that the island would sink, so all constructed boats and left. Except for Love. Love was the only one who stayed. Love wanted to hold out until the last possible moment. When the island had almost sunk, Love decided to ask for help.
Richness was passing by Love in a grand boat. Love said, “Richness, can you take me with you?” Richness answered, “No, I can’t. There is a lot of gold and silver in my boat. There is no place here for you.”
Love decided to ask Vanity who was also passing by in a beautiful vessel. “Vanity, please help me!”. Vanity answered, ” I can’t help you, Love. You are all wet and might damage my boat,”
Sadness was so close by, so love asked, “Sadness, Let me go with you.” “Oh … Love, I am so sad that I need to be by myself!”
Happiness passed by Love, too, but she was so happy that she did not even hear when Love called her.
Suddenly, there was a voice, Come, Love, I will take you.”  It was an elder. So blessed and overjoyed, Love even forgot to ask the elder where the
y were going. When they arrived at dry land, the elder went her own way. Realizing how much was owed the elder,
Love asked Knowledge, another elder, “Who helped me?”
“It was Time,” Knowledge answered.
“Time?” asked
Love. “Bit why did Time help me?”
Knowledge smiled with deep wisdom and answered, “Because only Time is capable of understanding how valuable Love is.”
It is true, right? so if someone you love break your heart, stay cool guys cause Time will heal your soul, and you’ll get someone new that really love you, understand you, and respect the Love.. Keep trying and be positive.
Cheers ^^

Undangan Etnik Mamasa

Hohoho… Sekarang giliran untuk mengenal Mamasa, Sulawesi Barat. Lewat seni ukir khas-nya kita kunjungi Mamasa. Simpel, namun unik, memiliki karakter namun tetap bisa menampilkan kesan luwes, inilah gambaran dari masyarakat Mamasa yang diaplikasikan lewat seni ukirnya, dan kami mencoba menghadirkannya dalam koleksi desain undangan etnik kami yang baru.

Motif di hadirkan dengan warna hitam, dan background atau warna dasar didapat dariwarna kertas, yaitu gold, hmm….karakternya kuat dan kesan mewahnya juga dapet banget kan…

Space yang terdapat dibagian sayap kiri dan kanan undangan dimanfaatkan sedemikian rupa. Salah satunya dengan menempatkan foto calon pengantin, di setting agar tetap matching dengan desain keseluruhan tentunya.

Penasaran dengan desain undangan yang satu ini?
Main yuk, ke toko kami…:D

Kue keranjang, wajib saat Imlek

Imlek sudah lewat, tapi ngga ada salahnya nambah ilmu tentang tradisi. Tradisi yang mau di bahas ini tentang kue yang wajib ada saat imlek atau tahun baru Cina. Sudah pernah coba Kue Keranjang belum? Kalo belum cepet-cepet deh nyoba…sayang kan, kue enak begini ngga pernah nyoba. Keberadaanya memang jarang kalo ngga pas event imlek, tapi kalo beruntung bisa nemu kok di pasar tradisional atau pasar di daerah Jakarta Kota yang banyak menjual keperluan ibadah Budha atau Kong Hu Cu. Yang paling penulis tunggu saat imlek, selain kemeriahan acaranya, ya kue keranjang ini, mmm…manis, kenyal, lengket…seru deh makannya…:D



Kue keranjang disebut juga sebagai Nian Gao atau dalam dialek Hokkian Tii Kwee yang artinya kue manis. Nian Gao, kata Nian sendiri berarti tahun dan Gao berarti kue dan juga terdengar seperti kata tinggi, oleh sebab itu kue keranjang sering disusun tinggi atau bertingkat. Makin ke atas makin mengecil kue yang disusun itu, yang memberikan makna peningkatan dalam hal rezeki atau kemakmuran. Pada zaman dahulu banyaknya atau tingginya kue keranjang menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah. Biasanya kue keranjang disusun ke atas dengan kue mangkok berwarna merah di bagian atasnya. Ini adalah sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok.


Disebut kue keranjang karena wadah cetaknya yang berbentuk keranjang. Kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal dan lengket. Sering dipanggil dengan sebutan dodol cina karena “lengket”-nya itu. Kue ini merupakan salah satu kue khas atau wajib perayaan tahun baru Imlek. Kue keranjang ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang tahun baru Imlek dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15 setelah Imlek).

Dipercaya pada awalnya, kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan dewa Tungku agar membawa laporan yang menyenangkan kepada raja Surga. Selain itu, bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek tersebut dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang.

Di Cina terdapat kebiasaan saat tahun baru Imlek untuk terlebih dahulu menyantap kue keranjang sebelum menyantap nasi sebagai suatu pengharapan agar dapat selalu beruntung dalam pekerjaannya sepanjang tahun.
Kue yang terbuat dari beras ketan dan gula ini dapat disimpan lama, bahkan dengan dijemur dapat menjadi keras dan awet. Setelah keras dapat diolah dengan digoreng menggunakan tepung dan telur ayam kemudian disajikan hangat-hangat. Dapat pula dijadikan bubur dengan dikukus kemudian ditambahkan bumbu-bumbu kesukaan. :D

Gambar : google images

Wednesday, October 23, 2013

Burgundy

“Warna burgundy mas, kyak gni nih mas!” ow gtu mba, iyah mba, okeh mba, ….
setelah konsumen pergi, kemudian saya berpikir kok sekarang warna macem-macem yah, ada hijau tosca, biru dongker, merah marun, trus belum lg abu2 monyet, apa lah itu… sepertinya saya harus up to date lagi nih soal warna.
Okeh kita kembali lagi dengan burgundy, setelah beberapa saat saya browsing di internet, ternyata burgundy masuk ke dalam golongan warna merah, lebih tepatnya burgundy itu diambil dari nama tempat di daerah Perancis Timur, daerah tersebut merupakan penghasil anggur, dan ternyata burgundy itu sama dengan warna anggur merah (red wine),  bukan grape yah, tp wine, jadi bukan buah anggur, tp minuman anggur.

Ada sebagian orang yg bilang warnanya mirip merah marun, namun ada juga yg bilang ungu tua, saya pribadi pun tidak tahu detilnya, namun jika ingin objective, sebaiknya tuangkan anggur merah ke dalam gelas bening, lalu bandingkan dengan undangan anda.
Mungkin pertanyaan selanjutnya, anggur merah merk apa nih, yang benar-benar warna burgundy?
Nah untuk pertanyaan itu saya pun belum tau pasti, mungkin tanyakan dengan pakar anggur, atau yg sering minum anggur :)
Salam
CH
Gambar dipinjam dari:
- http://www.harloff.com/
- http://www.french-property,com

Friday, October 18, 2013

Pernikahan Adat Batak

Berbicara tentang adat, maka kita berbicara mengenai aturan (role), oleh sebab itu pemahaman adat identik dengan pemahaman aturan. Di dalam sejarah kehidupan manusia, segala aktivitas manusia tidak terlepas dari aturan, yang kita sebut norma. Pelanggaran terhadap suatu aturan atau norma, akan mendapatkan sanksi hukum (punisment) ada hukuman moral dan ada hukuman fisik. Di dalam aturan adat, yang paling dominan adalah norma. Pelanggaran atau kesalahan mengikuti norma, maka pertanggungjawabannya adalah moral. Tujuan memahami aturan/norma adat adalah untuk menghidarkan sanksi moral didalam diri orang yang melanggarnya terutama kalau orang tersebut adalah raja adat.
Bagi orang batak, peristiwa adat yang muatan normanya sangat kompleks adalah adat perkawinan dan adat orang meninggal.
Berikut sedikit tentang prosesi adat pernikahan Batak
- Pabangkit hata (melamar) Adalah acara pelamaran orangtua laki kepada orangtua perempuan dengan atas dasar, si laki sudah sepakat dengan si perempuan untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih pasti. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian prosesi perkawinan
- Hori-hori dingding Merupakan rangkaian lanjutan acara pabangkit hata. Acara ini cenderung sebagai penjajakan linkage antara kemampuan orang tua laki dengan keinginan orangtua perempuan, apabila hubungan tersebut dilanjutkan kepada pesta perkawinan. Acara ini dilaksanakan secara rahasia oleh saudara prempuan orangtua laki-laki dengan saudara perempuan orangtua perempuan. (acara imformal)
- Patua hata Acara ini merupakan lanjutan pabakkit hata dan hori-hori dingding yang setingkat lebih tinggi kepastiannya. Acara ini menyatakan bahwa hubungan si anak dengan siperempuan bukan hubungan terbatas antara kedua belah pihak tetapi sudah melebar hingga kepada yang berkompeten. Pada saat sekarang acara ini sudah disatukan dengan acara parhusipon. Kalau acara ini tersendiri didalam proses rencana perkawinan, maka acara patua hata, sudah membawa konsep ancang-ancang waktu, marhusip, jumlah undangan, tempat pesta, jumlah sinamot, bentuk ulaon dan sebagainya agar pada acara marhusip semua sudah matang (all ready for go on).
- Marhusip Acara marhusip adalah acara pematangan ancang-ancang menjadi konsep ke jenjang marhata sinamot. Didalam adat batak, dalam membicarakan sesuatu yang akan pasti harus terbuka di antara dalihan natolu. Materi yang dibicarakan di dalam marhusip, sama persis dengan yang dibicarakan dalam acara marhata sinamot. Keterbukaannya adalah menjadi perbedaannya antara marhusip dengan marhata sinamot. Makanya disebut bisik-bisik yang keras karena belum terbuka pembicaraan tersebut dengan dalihan natolu. Bisik-bisik di dalam hal ini adalah, adanya salah satu komponen dalihan natolu yang belum mendengar isi pembicaraan. Yaitu hula-hula kedua belah pihak. Apabila hula-hula kedua belah pihak ikut serta dalam pembicaraan itu, maka parhusipon sudah masuk pada acara marhata sinamot. Pinggan panukkunan sudah harus berjalan, jambar dan situak natonggi serta piso dan upa tulang. Pada pesta unjut hanya menyelesaikan piso dan parjambaran yang belum terlaksana. Kalau marhata sinamot sudah berjalan, maka tinggal pelaksanaan pesta unjut. Catatan. Di sebahagian marga dan luat acara marhusip ditiadakan. Konsep yang sudah disepakati pada acara patua hata langsung dibawa ke acara marhata sinamot sekaligus pesta unjut.
- Todoan adalah merupakan hak seseorang untuk menerima sejumlah uang, barang atau ternak dari mertua seorang putrid pada waktu pernikahan. Di daerah tertentu di Humbang Hasundutan, todoan ini sebagai permintaan khusus dari Ibu yang melahirkan pengantin perempuan yang harus dipenuhi oleh orang tua pengantin laki-laki. Sebagai imbalan dari todoan, orangtua dari perempuan harus memberikan “ulos” yang disebut ulos todoan. Todoan ini hendaknya kita lestarikan sebagai Ciri Khas Adat Rambe
Bentuk Ulaon
1. Alap Jual. Alap jual adalah bentuk ulaon perkawinan dimana yang menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta perkawinan di kerjakan oleh keluarga perempuan (Bolahan Amak). Pihak keluarga laki-laki tinggal datang dan membawa uang sesuai jumlah yang telah disepakati pada saat marhusip atau patua hata. Setelah selesai pesta. Pengantin perempuan di boyong ke rumah pengantin laki-laki.
2. Taruhon Jual Adalah bentuk pesta perkawinan di mana yang menyediakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pesta dilaksanakan oleh pihak pengantin laki-laki (Bolahan Amak). Pihak pengantin perempuan datang untuk melaksanakan pesta (manaru boru) dan akan menerima dan memberikan segala hak dan kewajiban sesuai dengan apa yang sudah disepakati, didalan acara patua hata atau marhata sinamot. Kedatangan pihak pengantin perempuan disambut oleh keluarga pengantin laki-laki. Sedangkan pada pesta alap jual, keberadaan pihak pengantin perempuan sudah ditempatnya/dihalamannya maka tidak ada lagi penyambutan terhadap pihak par boru.
3. Sulang-Sulang Pahompu/Manggarar Adat Adalah bentuk pesta adat yang dilaksanakan suami istri, karena pada saat perkawinan mereka disebut Mangalua (Kawin Lari). Bentuk perkawinan seperti ini sangat dihindari oleh orang Batak. Perkawinan semacam ini adalah karena sesuatu dan lain hal terpaksa dilaksanakan. Walaupun dengan resiko meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan. Disebut sulang-sulang pahompu karena adat tersebut dilaksanakan setelah suami istri sudah punya anak. Disebut manggarar adat karena perkawinan yang mereka lakukan mendahulukan lembaga perkawinan dan membelakangkan pelaksanaan adatnya. Adat tersebut menjadi hutang yang harus dibayar. Manggarar adat pada umumnya bentuk adat yang dilaksanakan sebelum suami istri yang kawin lari mempunyai anak.
Suhi Ni Amppang Na Opat Suhi ni amppang na opat, sering disamaratakan dikeluarga pengantin laki-laki dengan dikeluarga pengantin perempuan. Apasaja suhi ni amppang na opat bagi Pihak Paranak:
a. Suhut Pangamai
b. Haha ni Pangoli
c. Iboto ni pangoli/Sihutti Appang
d. Tulang ni pangoli / sijalo tikting marakkaup Suhi ni Appang na opat
bagi pihak par boru adalah:
a. Suhut Pamarai
b. Simandokkon/ iboto ni namuli
c. Pariban
d. Sijalo upa tulang/ Tulang ni boru muli
Satu hal yang perlu kita pahami mengenai Upa Tulang dan Tikting Marakkup. Upatulang adalah sejumlah uang dari sinamot yang diterima yang harus diserahkan orang tua dari penganting perempuan kepada tulangnya pengantin perempuan. Besarnya upa tulang, sesungguhnya adalah menurut perhitungan X : 2 = ½x : 3 Besarnya hasil pembagian itulah yang diserahkan kepada tulangnya pengantin perempuan. Jaman dahulu merupakan keharusan. Berdasarkan itulah suhut takut untuk me-mark up sinamot kalau hanya untuk di depan khalayak.
Tikting atau cincin marakkup Adalah besarnya jumlah uang yang diambil dari sinamot yang diterima yang harus diberikan oleh orang tua dari pengantin perempuan Kepada tulangnya pengantin laki-laki biasanya ½ dari jumlah upa tulang. Pemberian ini ada kaitannya dengan namanya Tikting atau tittin marakkup. Bagi sebagian daerah disebut Tikting Marakkup, adalah pemberitahuan (Tikting = Warta) kepada tulang dari hela bahwa berenya sudah menjadi hela, sama artinya dengan bere. Sehingga mulai pada saat itu kedudukan mereka terhadap marga helanya adalah sama. (Hot pe jabu I, hot do I margulang-gulang. Tudia pe berei mangalap boru, hot do I boru ni tulang).
Di lain daerah mengatakan “Tittin Marakkup” tittin (cincin) adalah pertanda antara dua pihak yang sama menggunakan cincin, bahwa mereka berdua sama kedudukannya terhadap keluarga pengantin laki-laki. Cincing yang dimaksud adalah sejumlah uang yang diberikan kepada tulangnya pengantin laki-laki. Pinggan Panukkunan Bagi orang batak mengatakan “Sai marmula do nauli, sai marmula do nadenggan”. Sebagai kepastian hukum bagi Raja Raja Adat, Natua-tua dan Khalayak, maka untuk memulai suatu pembicaraan resmi dikatakan, “Hesek mulani gondang, serser mula ni tortor, sise mulani hata” Setelah selesai makan, untuk memulai pembicaraan, maka pihak pengantin perempuan menanya keberadaan pinggan panukkunan sebagai kepastian hukum yang akan dibicarakan.
Pinggan panukkunan adalah sebuah piring berisi beras secukupnya, daun sirih 5 atau 7 lembar, uang empat lembar dan dulu, selalu disertakan sepotong daging (Tanggo-tanggo). Piring (wadah), beras (kemakmuran), Daun sirih (kesegaran dan kesehatan prima), Uang (suka cita) dan daging masing-masing mempunyai makna dalam pembicaraan resmi pada adat perkawinan. Sebagai pendahuluan menghantarkan pembicaraan raja adat, isi pengantar tersebut harus berkaitan dengan semua isi dari pinggan panukkunan.
Selanjutnya pembicaraan memasuki inti dari pesta adat. (Skenario Tanya jawab dalam marhata sinamot pada pesta unjut akan dipelajari dan menjadi inti pertemuan kita) Tikkir Tangga/Paulak Une Acara ini sebetulnya adalah acara yang sangat pribadi bagi kedua belah pihak dan dahulu acara ini sangat sensitive bagi pihak luar terutama paulak une. Itulah sebabnya acara ini dilaksanakan oleh yang bersangkutan (pengantin) dan orangtua pengantin laki-laki. Kalau kita lihat pelaksanaannya, acara tikkir tangga dilaksanakan parboru kerumah paranak sebelum acara patua hata. Tujuannya adalah untuk mengetahui siapakah calon helanya di antara 7anak didalam keluarga nya? Bagi orang batak ada: anak hasudungan, anak bunga-bunga, anak na niain, anak na sinuanhon, anak pisang, anak gappang, anak hatoban. Kalau kedudukan calon helanya diantara 7 macam anak bagi orang batak tidak disukai oleg pihak par boru, maka hubungan pertunangan dapat dibatalkan tanpa ada yang dipermalukan.
Acara Paulak Une dilaksanakan minimal seminggu sesudah resmi menjadi suami istri. Tujuannya adalah memberitahukan secara tidak langsung bahwa istrinya adalah boru ni raja dan une atau tidak (perawan atau tidak). Konsekuensinya apabila si istri bukan gadis lagi, pertanda bagi orang tua perempuan, anaknya ditinggalkan dirumah orangtuanya. Pihak parboru harus rela anaknya kembali kerumahnya, walaupun itu menjadi aib* ) Berdasarkan keterangan di atas bahwa sesunggunya pesta perkawinan adat batak tidak mengenal istilah ulaon sadari. Kalau toh harus diadakan maka Tikkir Tangga dan Paulak Une diserahkan kepada kedua belah pihak untuk melaksanakannya kemudian.
PERNIKAHAN ADAT BATAK Pada dasarnya, Adat Pernikahan Adat & Pernikahan Batak, mengandung nilai sakral. Dikatakan sakral karena dalam pemahaman Pernikahan Batak, , bermakna pengorbanan bagi parboru (pihak penganten perempuan) karena ia “berkorban” memberikan satu nyawa manusia yang hidup yaitu anak perempuannya kepada orang lain pihak paranak (pihak penganten pria) , yang menjadi besannya nanti, sehingga pihak pria juga harus menghargainya dengan mengorbankan/ mempersembahkan satu nyawa juga yaitu menyembelih seekor hewan (sapi atau kerbau), yang kemudian menjadi santapan (makanan adat) dalam ulaon unjuk/ Pernikahan Adat itu. Sebagai bukti bahwa santapan /makanan adat itu adalah hewan yang utuh, pihak pria harus menyerahkan bagian-bagian tertentu hewan itu (kepala, leher, rusuk melingkar, pangkal paha, bagian bokong dengan ekornya masih melekat, hatu, jantung dll)bagian tersebut disebut tudu-tudu sipanganon (tanda makanan adat) yang menjadi jambar yang nanti dibagi-bagikan kepada para pihak yang berhak, sebagai tanda penghormatan atau legitimasi sesuai fungsi-fungsi (tatanan adat) keberadaan/kehadira n mereka didalam acara adat tersebut, yang disebut parjuhut.
Sebelum misi/zending datang dan  orang Batak masih menganut agama tradisi lama, lembu atau kerbau yang dipotong ini ( waktu itu belum ada pinahan lobu) tidak sembarang harus yang terbaik dan dipilih oleh datu. Barangkali ini menggambarkan hewan yang dipersembahkan itu adalah hewan pilihan sebagai tanda/simbol penghargaan atas pengorbanan pihak perempuan tersebut. Cara memotongnya juga tidak sembarangan, harus sekali potong/sekali sayat leher sapi/kerbau dan disaksikan parboru (biasanya borunya) jika pemotongan dilakukan ditempat paranak (ditaruhon jual). Kalau pemotongan ditempat parboru (dialap jual) , paranak sendiri yang menggiring lembu/kerbau itu hidup-hidup ketempat parboru. Daging hewan inilah yang menjadi makanan pokok “ parjuhut” dalam acara adat perkawinan (unjuk itu). Baik acara adat diadakan di tempat paranak atau parboru, makanan/juhut itu tetap paranak yang membawa /mempersembahkan.
Kalau makanan tanpa namargoar bukan makanan adat tetapi makanan rambingan biar bagaimanpun enak dan banyaknya jenis makananannya itu. Sebaliknya “namargoar/tudu- tudu sipanagnaon” tanpa “juhutnya” bukan namargoar tetapi “namargoar rambingan” yang dibeli dari pasar. Kalau hal ini terjadi di tempat paranak bermakna “paranak” telah melecehkan parboru, dan kalau ditempat parboru (dialap jula) parboru sendiri yang melecehkan dirinya sendiri. Anggapan acara Perkawinan Adat & Perkawinan Batak rumit dan bertele-tele adalah keliru, sepanjang ia diselenggarakan sesuai pemahamn dan nilai luhur adat itu sendiri. Ia menjadi rumit dan bertele-tele karena diselenggrakan sesuai pamaham atau seleranya.
Marhusip : Meskipun acara Marhusip salah satu unsur adat tetapi belum termasuk acara adat lengkap,maksudnya pada acara ini saudara laki-laki ibu yang melahirkan pengantin perempuan belum ikut karena tidak dihadiri pihak hulahula. Jadi disebut namanya Marhusip adalah karena pembicaraan masalah pernikahan belum resmi jadi tidak perlu diketahui umum.Jadi baru dalam tarap penjajakan. Falsafah yang terkandung dalam acara marhusip ini adalah:
1. Manat unang tartuktuk, dadap unang tarrobung. Maksudnya: sebelum dilaksanakan hajad seharusnya diperiksa dan hati-hati dalam bersikap serta tata cara yang akan di acarakan.
2. Jolo nidodo asa hinonong; maksudnya sama dengan no 1 diatas.
3. Jolo tinaha garung niba, jolo tinangkasan ma jolo gogo niba dohot sinadongan niba maksudnya harus teliti semua aspek yang terkait dengan acara.
Umumnya dirumah pihak perempuan dilaksanakan acara “Marhusip”, dan harus diberitahu akan kedatang pihak calon laki-laki, biasanya cukup 3 orang saja yang ikut dalam acara itu yaitu haha anggi dari bapak calon laki-laki serta dongan sahuta serta seorang wanita, begitu juga dari pihak calon perempuan yang ikut dalam acara Marhusip tersebut. Pembicaraan berkisar perkenalan dan mengenalkan anak laki-laki yang ingin meminang anak perempuannya, dansambil melihat keadaan pihak perempuan apakah layak dijadikan menantu. Dan pada zaman sekarang pembicaraan diarahkan untuk mengetahui apa yang diinginkan pihak parboru (termasuk ancar-ancar berapa sinamot yang diminta) kalau acara Marhusip lancar dan kedua belah pihak sama-sama tidak keberatan dalam hal anak yang dijodohkan.
Dibawah ini ada skenario acara Marhusip dalam bahas Batak dan artinya bahasa Indonesia sebagai berikut : Pembicara dari pihak parboru (PB): „ Ba mankatai ma hita raja ni parboruon. IA nungga ro hamu tu bagas nami on, mauliate ma siala haroromuna, ba nuaeng na manungkun ma hami tu hamu: Dia ma na hinarohon muna, tangkas ma paboa“ (artinya: Marilah kita mulai berbicara wahai Raja ni Boru, kalian sudah datang kerumah ini , terima kasih atas kedatangan kalian, sekarang kami ingin bertanya pada kalian apa maksud kedatangan kalian tolong dijelaskan?)
Jawaban dari pihak paranak (calon laki-laki) (PL): “Olo ma tutu, rajanami, alusan ma tutu sungkunsungkun muna I, Mauliate ma hudok hami parjolo tu Tuhan ta , ai dibagasan hahipason do hamu hu dapot hami di bagasta na marapang na marjual on. Mauliate do jala malambok pusu huhut dohonon nami di hamu rajanami na manjangkon haroronami dohot bohi na minar huhut lambok mardongan sipanganon na tabo. Ia haroro namai raja nami, na mardomu do I tu boaboa ni anak nami na ro mangalaka tu hutanta on, na di jabuon.Jadi na disuru suhut nami do hami manopot hamu, rajanami, manangkasi dohot manungkun pingkiran muna taringot tu si. On pe parjolo ma jolo husungkun hami hamu rajanami, beha naung ditolopi rohamuna do langka ni anak nami i? Jala molo naung ditolopi rohamuna do, ba songon dia ma dipangido rohamuna simpehononmuna tu hami di sibahenon dohot sipatupaon nami. Botima rajanami. (artinya: Benar sekali raja nami, memang seharusnyalah kami menjawab pertanyaan itu, Terima kasih kami haturkan terutama kepada Tuhan, karena diberi kesehatan kepada kalian yang kami temui di rumah “na marapang na marjual on. Terima kasih setulusnya kami haturkan kepada kalian raja nami yang menghormati kedatangan kami dengan muka yang cerah serta lembut disertai hidangan makanan yang begitu lezat. Adapun kedatangan kami wahai raja nami, sehubungan dengan pemberitahuan dari anak kami yang datang berjalan-jalan kekampung dan kerumah ini. Jadi kami disuruh suhut nami, menemui kalian raja nami, memperjelas serta menanyai kepada kalian tentang hal itu. Sebelumnya terlebih dahulu kami menanya kalian raja nami, Bagaimana apakah kalian sudah mengerti akan maksud kedatangan anak kami?, kalaulah sudah dimengerti , kira kira bagaimana dan apa yang perlu kalian sampaikan pada kami untuk dipersiapkan dan disediakan. Kira-kira begitulah)
Jawaban PB : “Mauliate ma diharoromuna tu bagasta on dohot dihatamuna I sudena.Ndang pola ganjang be dohonon nami mangalusi hamu.Las do rohanami majangkon berenami anak muna i. Alai pangidoan nami, molo naung sian ias dohot burjumuna do na ro nuaeng manaringoti i, ba tung denggan ma bahen hamu taringot tu sisombahononmuna tu hami.Angkup ni I, manurut pingkiran nami nangkin andorang so borhat hamu tu son, ba nungga adong hian bilangan na tontu ditonahon suhut muna sipaboaon muna tu hami. On pe, asa jempek jala bulus pangkataionta ba pintor tangkas ma paboa hamu na tinonahon ni suhut muna I tu hamu. Songon I ma jolo alus nami. Botima. (artinya: Terima kasih atas kedatangan dan kata-kata kalian tersebut, tidak perlu saya rasa panjang-panjang menjawab kalian, kami sangat senang atas bere kami anak kalian itu, tetapi permintaan kami kalaulah memang sudah dari hati yang tulus kedatangan kalian dan menyinggung soal itu maka alangkah baiknya kalau kalian mempersiapkan (sombasomba) untuk membicarakan itu kepada kami, menurut pikiran kami tadi, sebelum kalian berangkat kemari barang tentu sudah ada disiapkan untuk kalian dalam bilangan tertentu oleh suhut kalian, untuk diberi tahu kepada kami. Begitupu untuk mempersingkat pembicaraan kita, terus terang saja kalian menyampaikan yang dititip dan dipesankan suhut tadi kepada kalian. Begitulah dahulu jawaban kami.Botima).
Jawaban Pihak PL: “mauliate di hatamuna I, rajanami.Nunga nauli I, raja nami, na nidokmuna I, ai tutu do nunga adong hian bilangan na tontu huboan hami songon tona ni suhut nami.Jadi ba pinaboa ma tu raja i. Songon on ma , raja nami: Upa suhut RP.20.000.000,00. Jala manurut / marbanding tusi ma angka jambar pangalambungi. (artinya: Terima kasih, atas semua kata-kata kalian raja nami, wahai raja nami apa yang kalian katakan tadi adalah benar, sudah ada bilangan yang pasti kami bawa sebagai pesan dari suhut kami. Jadi kami sampaikanlah kepada kalian raja nami, kira kira beginilah perinciannya, Upa suhut ditetapkan Rp. 20.000.000, serta termasuklah itu untuk jambar pangalambungi.) ( biasanya sewaktu Marhusip selalu penawaran terjadi dan pihak utusan laki-laki selalu mengurangi dari yang telah ditetapkan hasuhutan orang tua laki-laki.)
Pembicara PB: “Ah, raja ni parboruon , ndang masuk diakal nami holan nasa I di tonahon suhut muna. Jadi nuaeng pe, ndada porlu masitaoaran ditingki na “Marhusip” . Paboa hamu ma torang sadia ditonahon suhut muna”. (artinya: Ah, rajani parboruon, tidak masuk akal kami Cuma hanya sekian yang dipesan suhut kalian, jadi sekarang tidak perlu kita saling tawar menawar sewaktu Marhusip. Beritahu secara jelas berapa sebenarnya yang dipesan suhuit kalian) Pembicara PL: “Ba molo songon I do, rajanami, an a uli, ba pinaboa ma tutu. Tona ni suhut nami ,upa suhut Rp.20.000.000. Jala manurut tusi ma tu angka pangalabungi, jadi songon I ma da, raja nami, naboi tuhuhon nami, botima. (Kalau begitu raja nami, baiklah kami beritahulah kepada kalian yang sebenarnya berapa yang dipesankan suhut kami, upa suhut Rp. 20.000.000. termasuk untuk para pangalabungi, begitulah raja nami, yang dapat kami tanggung. Botima.)
Jawaban PB: „Mauliate ma di hatamuna i, raja ni parboruon. Jadi songon on ma dohonon nami taringot tusi: Hujalo hami ma songon na pinaboa muna i, molo olat ni i nama na boi sombahonon muna tu hami, alai ingkon hamu ma mananggung pesta ro sude na mardomu tusi. Ianggo so songoni do, tung soboi do haoloan hami hatamuna i. Songon I ma hatanami, botima, ai patar ma paboaon nami tu hamu, sinamot na nilehon muna I do na naeng pangkehon nami tu haporluan ni nanaeng parumaen muna on, songon I ma hata nami, botima. (artinya: Terima kasi atas jawaban kalian itu raja ni parboruon, jadi beginilah jawaban kami tentang itu: Kami menerima seperti jumlah yang kalian sampaikan, kalau Cuma samapai disitu kesanggupan untuk dipersembahkan kepada kami, tetapi kalianlah yang menanggung pesta serta semua yang berhubungan dengan itu, kalau tidak begitu kami tidak dapat menerima apa yang kalain katakan itu. Begitulah jawaban kami Botima, jelas-jelaslah kami sampaikan kepada kalian, sinamot yang kalian berikan itu yang akan dipergunakan untuk keperluan bakal menantu kalian itu, begitulah jawaban kami ,Botima)
Pembicara PL: Taringot tusi, rajanami ianggo tona ni suhut nami songon on do;sian hami do panjuhuti, alai ianggo na mambahen pesta I, ba hamu parboru do. Jadi molo tung so boi do songon I, an ang tarlehon hami nuaeng putusan taringot tu na nidok ni rajai. Alai ba paboaon nami ma I tu suhut nami.” (artinya: Mengenai itu raja nami, pesan suhut kami begini; Dari kami panjuhuti, tetapi yang mengadakan pesta kalian pihak parboru. Jadi kalaupun tidak begitu kami tidak sanggup memutuskan sekarang raja nami, tetapi akan kami sampaikan permintaan itu kepada suhut kami.)
Pembicara PB: “Molo songoni, ba pasahat hamu ma hatanami I tu suhut muna alai paboa hamu, tung gomos do hami di pangidoan nami I, botima” (artinya: Kalu begitu, kalian sampaikanlah usul kami itu kepada suhut kalian, tetapi harus kalian sampaikan dengan tegas permintaan kami itu, botima.) Jawaban PL: “na uli rajanami pasahaton nami ma hatamuna I tu suhut nami, jala tibu do hami ro mamboan alus sian suhut nami botima.” (artinya: Sangatlah baik itu raja nami, kami akan sampaikan usul kalian itu kepada suhut kami, serta kami akan segera memberi jawaban dari suhut kami, botima)
Sampai disini akhir pembicaraan yang terjadi untuk saat itu, (kesimpulannya masih terjadi tawar menawar siapa yang mengadakan pesta keramaiannya, juru bicara pihak perempuan meminta agar pesta dilaksanakan oleh pihak laki-laki, namun juru bicara pihak laki-laki menolak dan meminta agar pesta dilakukan oleh pihak perempuan, namun keputusan akan dirundingkan dengan orang tua calon laki-laki/suhut yang nanti akan diberi jawabnya segera ) laki-laki menawarkan datang untuk kedua kalinya hanya untuk menyampaikan jawaban dari orang tua calaon mempelai laki-laki. Marhata sinamaot: (membicarakan mas kawin).
Ada falsafah orangtua terdahulu yang perlu diingat sebagai berikut:
1. Aek godang aek lau; Dos ni roha sibaen nasut
1. Balinta ma pagabe tumandangkon sitadoan; Arinta ma gabe molo masipaoloan.
1. Amporik marlipik, onggang marbahang; Gabe do parboli na otik, laos gabe do nang parboli na godang
1. Na mandanggurhon tu dolok do molo basa marhulahula.
(maksudnya Apa saja yang dilempar ke gubnung, seperti batu, pasti batu tersebut meluncur/jatuh kearah kita, dan pasti batu lainpun yang tersenggol akan terikut. Jadi sama berlipat ganda diterima keuntungan yang baik, kalau kita menghormati Hulahula.)
Setelah jadawal pembicaraan tentang Mas kawin (sinamot) telah ditetapkan pada waktu Marhusip dan pesan akan kedatangan pihak Pengantin Laki-lakipun disampaikan pada pihak pengantin perempuan. Maka Pihak perempuanpun mempersiapkan penyambutan dan menerima “Suhi ni ampang“, dan memberi tahu pada orang yang berkaitan dengan acara itu untuk hadir yaitu: 1- Suhut (parboru) 2- Sijalo bara, 3- Tulang 4- Simandokkon, 5- Pariban. Dan ditambah sebagai saksi yaitu: 6- Dongan sahuta (1 atau 2 orang) Inilah yang yang menerima pihak Paranak dalam membicarakan sinamot .Adapun falsafah yang terkandung dalam “Ampang” adalah sebagai berikut:
—————————————————————————————————————–
Ditulis oleh esra Hasugian dengan sumber “Tata cara pelaksanaan adat batak” dan disarikan dari berbagai sumber melalaui wikipedia.com
image source : my.opera.com

Undangan Cita Rasa Jakarta

Hai… salam
kami ingin memperkenalkan desain undangan baru dengan cita rasa kota Jakarta, khususnya etnis Betawi. Dengan warna cerah yang menarik mata, membuat desain ini ingin membagi kisah bahagia anda kepada tamu-tamu anda. Budaya Betawi yang diangkat dalam undangan ini adalah Ondel-ondel dan Gigi Balang. Eh? Gigi Balang? apa tuh?, mungkin anda semua sudah sangat familiar dengan yang namanya Ondel-ondel tapi kalo Gigi Balang mungkin banyak yang belum tahu.
Gigi Balang adalah sebutan untuk ukiran yang sering ada sebagai hiasan rumah betawi, dan budaya itu kami angkat sebagai ornamen sebuah desain undangan.
Undangan ini mungkinn akan berkesan biasa ketika tertutup, tetapi siap-siap terkejut ketika membukanya ada Pop Up Ondel-ondel yang mengiringi nama kedua mempelai. Dengan ide bahwa Ondel-ondel sebagai penjaga dan penolak bala (sial) bagi kedua mempelai, baik pra, hari H, ataupun pasca acara alias menjalani hidup sebagai pasangan suami istri. amin :) .


Salam undangan etnik.

Pernikahan Adat Yogyakarta

NONTONI
Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dikawininya. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya. Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Setelah orang tua si perjaka yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia. Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan siperjaka sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah diantara orang tua / pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran.
UPACARA LAMARAN
Melamar artinya meminang, karena pada zaman dulu diantara pria dan wanita yang akan menikah terkadang masih belum saling mengenal, jadi hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama.
• Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan yaitu orang tua calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu yang lazim disebut Jodang ( tempat makanan dan lain sebagainya ) yang dipikul oleh empat orang pria.
• Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, wajik, rengginan dan sebagainya.
• Menurut naluri makanan tersebut mengandung makna sebagaimana sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket (pliket,Jawa).
• Setelah lamaran diterima kemudian kedua belah pihak merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Banyak keluarga
Jawa masih melestarikan sistem pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan. Peningsetan Kata peningsetan adalah dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, peningsetan jadi berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orang tua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin putri. Menurut tradisi peningset terdiri dari : Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang lazim disebut tukon (imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya, jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur . Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.
UPACARA TARUB
Tarub adalah hiasan janur kuning (daun kelapa yang masih muda) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe (anyaman daun kelapa yang hijau). Pemasangan tarub biasanya dipasang saat bersamaan dengan memandikan calon pengantin (siraman, Jawa) yaitu satu hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan. Untuk perlengkapan tarub selain janur kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan. Adapun macamnya :
• Dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang.
• Dua janjang kelapa gading ( cengkir gading, Jawa )
• Dua untai padi yang sudah tua.
• Dua batang pohon tebu wulung (tebu hitam) yang lurus.
• Daun beringin secukupnya.
• Daun dadap srep.
Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan pintu gerbang satu unit (bila selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak.) Selain pemasangan tarub diatas masih delengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan sbb. (Ini merupakan petuah dan nasehat yang adi luhung, harapan serta do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa) yang dilambangkan melalui:
1. Pisang raja dan pisang pulut yang berjumlah genap.
2. Jajan pasar
3. Nasi liwet yang dileri lauk serundeng.
4. Kopi pahit, teh pahit, dan sebatang rokok.
5. Roti tawar.
6. Jadah bakar.
7. Tempe keripik.
8. Ketan, kolak, apem.
9. Tumpeng gundul
10. Nasi golong sejodo yang diberi lauk.
11. Jeroan sapi, ento-ento, peyek gereh, gebing
12. Golong lulut.
13. Nasi gebuli
14. Nasi punar
15. Ayam 1 ekor
16. Pisang pulut 1 lirang
17. Pisang raja 1 lirang
18. Buah-buahan + jajan pasar ditaruh yang tengah-tengahnya diberi tumpeng kecil.
19. Daun sirih, kapur dan gambir
20. Kembang telon (melati, kenanga dan kantil)
21. Jenang merah, jenang putih, jenang baro-baro.
22. Empon-empon, temulawak, temu giring, dlingo, bengle, kunir, kencur.
23. Tampah(niru) kecil yang berisi beras 1 takir yang diatasnya 1 butir telor ayam mentah, uang logam, gula merah 1 tangkep, 1 butir kelapa.
24. Empluk-empluk tanah liat berisi beras, kemiri gepak jendul, kluwak, pengilon, jungkat, suri, lenga sundul langit
25. Ayam jantan hidup
26. Tikar
27. Kendi, damar jlupak (lampu dari tanah liat) dinyalakan
28. Kepala/daging kerbau dan jeroan komplit
29. Tempe mentah terbungkus daun dengan tali dari tangkai padi (merang)
30. Sayur pada mara
31. Kolak kencana
32. Nasi gebuli
33. Pisang emas 1 lirang
Masih ada lagi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang dilambangkan melalui : Tumpeng kecil-kecil merah, putih,kuning, hitam, hijau, yang dilengkapi dengan buah-buahan, bunga telon, gocok mentah dan uang logam yang diwadahi diatas ancak yang ditaruh di:
1. Area sumur
2. Area memasak nasi
3. Tempat membuat minum
4. Tarub
5. Untuk menebus kembarmayang (kaum)
6. Tempat penyiapan makanan yang akan dihidangkan.
7. Jembatan
8. Prapatan

NYANTRI

Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan ditempat kan dirumah saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap ditempat sehingga tidak merepotkan pihak keluarga pengantin putri.
SIRAMAN
Upacara Siraman Siraman dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni. Bahan-bahan untuk upacara siraman :
• Kembang setaman secukupnya
• Lima macam konyoh panca warna (penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang dikasih pewarna)
• Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya.
• Kendi atai klenting
• Tikar ukuran ½ meter persegi
• Mori putih ½ meter persegi
• Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang
• Dlingo bengle
• Lima macam bangun tulak (kain putih yang ditepinnya diwarnai biru)
• Satu macam yuyu sekandang ( kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning)
• Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek (kain kuning), 1 helai jinggo (kain merah).
• Sampo dari londo merang (air dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air, air ini dinamakan air londo)
• Asem, santan kanil, 2meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih
• Sabun dan handuk.
Saat akan melaksanakan siraman ada petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
• Tumpeng robyong
• Tumpeng gundul
• Nasi asrep-asrepan
• Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
• Empluk kecil (wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
• 1 butir telor ayam mentah
• Juplak diisi minyak kelapa
• 1 butir kelapa hijau tanpa sabut
• Gula jawa 1 tangkep
• 1 ekor ayam jantan
Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang memandikan, tujuh sama dengan pitu ( Jawa ) yang berarti pitulung (Jawa) yang berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias (pemaes) dengan memecah kendi dari tanah liat.
MIDODARENI
Midodareni berasal dari kata dasar widodari (Jawa) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya.
Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur.
Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:
• Sepasang kembarmayang (dipasang di kamar pengantin)
• Sepasang klemuk ( periuk ) yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk menutup klemuk tadi
• Sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap srep ( tulang daun/ tangkai daun ), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
• Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi.
Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bisa makan hidangan yang terdiri dari :
• Nasi gurih
• Sepasang ayam yang dimasak lembaran ( ingkung, Jawa )
• Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
• Krecek
• Roti tawar, gula jawa
• Kopi pahit dan teh pahit
• Rujak degan
• Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk penerangan (zaman dulu)
LANGKAHAN
Langkahan berasal dari kata dasar langkah (Jawa) yang berarti lompat, upacara langkahan disini dimaksudkan apabila pengantin menikah mendahului kakaknya yang belum nikah , maka sebelum akad nikah dimulai maka calon pengantin diwajibkan minta izin kepada kakak yang dilangkahi.
IJAB
Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ijab qobul biasanya dipimpin oleh petugas dari kantor urusan agama sehingga syarat dan rukunnya ijab qobul akan syah menurut syariat agama dan disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah.
PANGGIH
Panggih (Jawa) berarti bertemu, setelah upacara akad nikah selesai baru upacara panggih bisa dilaksanaakan. Pengantin pria kembali ketempat penantiannya, sedang pengantin putri kembali ke kamar pengantin. Setelah semuanya siap maka upacara panggih dapat segera dimulai.
Untuk melengkapi upacara panggih tersebut sesuai dengan busana gaya Yogyakarta dengan iringan gending Jawa:
1. Gending Bindri untuk mengiringi kedatangan penantin pria
2. Gending Ladrang Pengantin untuk mengiringi upacara panggih mulai dari balangan ( saling melempar ) sirih, wijik ( pengantin putri mencuci kaki pengantin pria ), pecah telor oleh pemaes.
3. Gending Boyong/Gending Puspowarno untuk mengiringi tampa kaya (kacar-kucur), lambang penyerahan nafkah dahar walimah. Setelah dahar walimah selesai, gending itu bunyinya dilemahkan untuk mengiringi datangnya sang besan dan dilanjutkan upacara sungkeman
Setelah upacara panggih selesai dapat diiringi dengan gending Sriwidodo atau gending Sriwilujeng. Pada waktu kirab diiringi gending : Gatibrongta, atau Gari padasih.


source : wikipedia,
image source :
pontianak.tribunnews.com
hantaranpernikahan.com
anatarfoto.com
2.bp.blogspot.com
jadiberita.com
media.vivanews.com
ariendariendarienda.blogspot.com
mantenhouse.com
nationalgeographic.co.id
tribunnews.com